Tuesday, December 14, 2004

nenek penjual permen

pagi itu seperti biasa, aku duduk di halte menunggu bis no. 23 yang akan kutumpangi ke kantor. halte bis itu terletak persis di depan sebuah sekolah. sepertinya sih sekolah dasar. soalnya anak-anak yang sering kulihat selalu seumuran anak-anak SD. di seberang halte, ada sebuah rumah sakit kecil. ga kayak rumah sakit sih. abis sepi banget. ga kayak rumah sakit di indonesia.

tapi pagi ini ada yang tak biasa. aku baru sadar, persis di sebelah halte ada seorang nenek duduk di atas kain plastik terpal warna oranye. umurnya kutaksir sekitar 70an ato lebih. dia sedang menunggui dagangannya di depan sekolah. ada permen warna warni, snack-snack kecil, dan segala pernak-pernik anak sekolah dasar lainnya.

guratan-guratan di wajahnya menarik perhatianku. tangannya terlihat kasar dan tampak bergetar pelan seperti tangan orang tua pada umumnya. tampak sangat jelas sisa-sisa kekuatan dan kerja keras masa lalu.

satu demi satu pertanyaan bermunculan di benakku. kenapa nenek setua ini masih harus bekerja dan mencari nafkah? dimana keluarganya? kenapa mereka tega membiarkan nenek setua ini berjualan di pinggir jalan?

berapa sih keuntungan dari sebuah permen? berapa yang bisa beliau dapat dari berjualan selama sehari? sebulan? betapa beliau harus bekerja keras di umur setua itu.

tak ada raut keluhan di wajahnya. beliau terlihat bahagia. walopun harus berjuang memikul daganganya dari satu sekolah ke sekolah lain.

iba, haru, sedih, kagum.. semua ada pikiranku tatkala kupandangi beliau berjalan terbungkuk dengan dagangan di pundaknya sambil membawa sekeranjang jajanan di tangannya.

tiba-tiba saat itu aku jadi kangen eyang putri. kangen sekali.
-terinspirasi oleh nenek penjual permen di halte bis-
|